Jumat, 27 Maret 2015

CONDITION SENTENCE



Nama                   : Dhimas Pribadhi
Kelas                    : 4EA26
NPM                    : 12211000
Mata Kuliah       : Bahasa Inggris Bisnis 2

What  is a Conditional Sentence?
  • A sentence discussing factual implications or hypothetical situations and their consequences.
  • Full conditional sentences contain two clauses: the condition and the result.
  • Eg.) If I go to the mall (condition), I will buy a pair of jeans (result).
Conditional Sentence
  • The ‘result’ is the main clause and the ‘condition’ is a subordinate (dependant) clause.
  • The properties of the conditional clause (tense, degree of probability) determine the properties of the entire sentence.
  • Conditional clauses usually begin with “if” or “unless”
        If you study, you will pass the exam.
        You won’t pass the exam unless you study

Three types of “IF” clauses in conditional sentences:
  • Type 1:  if + Simple Present, will-future
        Expresses something that is likely to happen
  • Type 2:  if + Simple Past, would +infinitive
        Expresses something that is not likely to happen
  • Type 3:  if + Past Perfect
        Expresses something that is impossible.

Type 1: if + Simple Present, will-future
  • Type 1 expresses something that is likely to happen.
  • Eg. If I catch the bus, I will get to school on time.
  • The main clause can also be at the beginning of the sentence:
  • Eg. I will get to school on time if I catch the bus.
Type 1: if + Simple Present, will-future
  • Conditional sentences Type 1 refer to the future.
  • An action in the future will only happen if a certain condition is met.
  • We don’t know for sure whether or not the condition will be fulfilled, but the condition is realistic and therefore likely to happen.
  • It is likely that I will catch the bus and get to school on time.
Type 2:  if + Simple Past, would + infinitive
  • Type 2 expresses something that is unlikely to happen.
  • Eg. If I had the time, I would go to the show.
  • The main clause can also be at the beginning of the sentence:
  • Eg. I would go to the show if I had the time.
  • We usually use “were” instead of “was” in Type 2.
Type 2:  if + Simple Past, would + infinitive
  • An action could happen if the present situation were different.
  • We don’t really expect the situation to change – we just imagine ‘what would happen if…’
  • It is unlikely that I will find the time to go to the show.
Type 3:  if + Past Perfect
  • Type 3 expresses something that is impossible.
  • Eg. If I had finished my homework, I would have gone to the party.
  • The main clause can also be at the beginning of the sentence:
  • Eg. I would have gone to the party if I had finished my homework.
Type 3:  if + Past Perfect
  • Type 3 conditional sentences refer to situations in the past.
  • An action could have happened in the past if a certain condition had been fulfilled.
  • We just imagine what would have happened if the condition had been met.
  • I wanted to go to the party but I wasn’t able to go to the party because I hadn’t finished my homework.
Type “0”
  • The “0” conditional is formed with both clauses in the present tense.
  • It is used to express a certainty, a universal statement, a law of science, etc.
  • Eg. If you heat water to 100 degrees celsius, it boils. If you don’t eat for a long time, you become hungry. If the sea is stormy, the waves are high.
  • The “0” conditional is different from true conditionals because the introductory ‘if’ can be replaced by ‘when’ or ‘whenever’.


Kamis, 03 April 2014

PEMAKAIAN METODE ILMIAH UNTUK MENJAWAB PERTANYAAN - PERTANYAAN ILMIAH


Definisi Metode Ilmiah

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, metode ilmiah adalah pendekatan atau cara yang dipakai di penelitian suatu ilmu.

KRITERIA METODE IMIAH

Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:

1. Berdasarkan Fakta adalah keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisa haruslah berdasarkan fakta-fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasar-kan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda atau kegiatan sejenis.

2. Bebas dari Prasangka, metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alasan dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif.

3. Menggunakan Prinsip Analisa, dalam memahami serta memberi arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis, Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisa yang tajam.

4. Menggunakan Hipotesa dalam metode ilmiah, peneliti harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk mengonggokkan persoalan serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.

5. Menggunakan Ukuran Obyektif yaitu kerja penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dengan merasa-rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dan dengan menggunakan pikiran yang waras.

6. Menggunakan Teknik Kuantifikasi dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan, kecuali untuk artibut-artibut yang tidak dapat dikuantifikasikan Ukuran-ukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus selalu digunakan Jauhi ukuran-ukuran seperti: sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagai¬nya Kuantifikasi yang termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking dan rating.

Tujuan Metode Ilmiah

Tujuannya ialah mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional, yang teruji) sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.secara luas di simpulkan bahwa tujuan metode ilmiah yaitu:

1.   Mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional, yang teruji) sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.

2.      Merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis.

3.    Untuk mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah, pengumpulan data yang relevan, analisis data dan interpretasi temuan, diakhiri dengan penarikan kesimpulan.

Definisi Pertanyaan Ilmiah

Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Pertanyaan penelitian selalu diawali dengan munculnya masalah yang sering disebut sebagai fenomena atau gejala tertentu. Tetapi tidak semua masalah bisa diajukan sebagai masalah penelitian. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar bisa diangkat sebagai masalah penelitian.

Berdasarkan kajian referensi buku-buku metodologi peneltian, setidaknya terdapat tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Tersedia data atau informasi untuk menjawabnya,

2) Data atau informasi tersebut diperoleh melalui metode ilmiah, seperti wawancara, observasi, kuesioner, dokumentasi, partisipasi, dan evaluasi/tes,

3) Memenuhi persyaratan orisinalitas, diketahui melalui pemetaan penelitian terdahulu (state of the arts),

4) Memberikan sumbangan teoretik yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan,

5) Menyangkut isu kontroversial dan unik yang sedang hangat  terjadi,

6) Masalah tersebut memerlukan jawaban serta pemecahan segera, tetapi jawabannya belum diketahui masyarakat luas, dan

7) Masalah itu diajukan dalam  batas  minat  (bidang studi) dan kemampuan peneliti.

Untuk mencapai maksud tersebut di atas, peneliti perlu melakukan pertanyaan reflektif sebagai pemandu. Menurut Raco (2010: 98-99), ada beberapa pertanyaan awal untuk dijawab sebagai berikut:

1) Mengapa masalah tersebut penting untuk diangkat?

2) Bagaimana kondisi sosial di sekitar peristiwa, fakta atau gejala yang akan  diteliti?

3) Proses apa yang sebenarnya terjadi di sekitar peristiwa  tersebut?

4) Perkembanghan atau pergeseran apa yang sedang berlangsung pada waktu peristiwa terjadi?

5) Apa manfaat penelitian tersebut baik bagi pengembangan ilmu pengetahun dan masyarakat secara luas di masa yang akan datang?

Pertanyaan dalam kegiatan ilmiah

Dalam kegiatan ilmiah, ada empat macam pertanyaan yang perlu dikembangkan, yaitu:

1)  Pertanyaan untuk mengungkap fakta

2) Pertanyaaan tentang prosedur

3) Pertanyaan tentang penggunaan alat dan bahan

4) Pertanyaan untuk merancang suatu kegiatan

Sumber:





KONSEP PENALARAN ILMIAH DALAM KAITANNYA DENGAN PENULISAN ILMIAH


Pengertian Penalaran Ilmiah

Ciri penalaran sebagai kegiatan berpikir adalah logika, kegiatan berpikir dengan pola tertentu dan analitik. Kemampuan penalaran merupakan kelebihan yang dimiliki manusia dibandingkan dengan binatang, padahal keduanya sama mempunyai otak. Dalam rangka bertahan hidup, apabila terjadi sebuah kegagalan maka akan mencari solusi untuk berhasil. Bahkan setelah menemukan solusi, mereka biasanya memiliki keinginan untuk melakukan inovasi agar mendapat hasil yang lebih baik. Penalarn ini biasa disebut penalaran ilmiah yang digunakan untuk meningkatkan mutu ilmu dan / atau teknologi. Dalam rangka meningkatkan mutu, dibutuhkan beberapa saran, yakni :

Bahasa ilmiah, yaitu kalimat berita yang merupakan suatu pernyataan atau pendapat-pendapat.

Bahasa logika dan matematika, dua pengetahuan ini saling berhubungan erat, keduanya sebagai sarana berpikir deduktif. Baik logika maupun matematika lebih mementingkan bentuk logis setiap pertanyaan dan mempunyai sifat yang jelas.

Logika dan statistika, kedua hal ini mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif untuk konsep yang berlaku umum.

Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek/matra. Kelima aspek tersebut adalah :

a. Aspek keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antarbagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah – rumusan masalah – tujuan – dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, harus berkaitan dengan pembahasan, dan harus berkaitan juga dengan kesimpulan

b. Aspek urutan
Aspek urutan adalah pola urutan tentang sesuatu yang harus didahulukan/ditampilkan kemudian (dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan). Suatu karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu.Pada bagian Pendahuluan, dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah

c. Aspek argumentasi
Yaitu bagaimana hubungan bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah tersebut perlu dibahas (pendahuluan), pendapat-pendapat/temuan-temuan dalamanalisis harus memuat argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.

d. Aspek teknik penyusunan
Yaitu bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten. Karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu, dan teknik ini bersifat baku dan universal.

e. Aspek bahasa
Karangan ilmiah disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis.
Beberapa ciri bahasa ilmiah: kalimat pasif, sebisa mungkin menghindari kata ganti diri (saya, kami, kita) susunan kalimat efektif/hindari kalimat-kalimat dengan klausa-klausa yang panjang.

Pengertian Penulisan ilmiah

Penulisan ilmiah adalah suatu tulisan yang membahas suatu masalah. Penulisan ilmiah juga merupakan uraian atau laporan tentang kegiatan, temuan atau informasi yang berasal dari data primer dan / atau sekunder, serta disajikan untuk tujuan dan sasaran tertentu. Informasi yang berasal dari data primer yaitu didapatkan dan dikumpulkan langsung dan belum diolah dari sumbernya seperti tes, kuisioner, wawancara, pengamatan / observasi. Informasi tersebut dapat juga berasal dari data sekunder yaitu telah dikumpulkan dan diolah oleh orang lain, seperti melalui dokumen (laporan), hasil penalitian, jurnal, majalah maupun buku.

Pengertian Karya Tulis
Karya tulis mempunyai banyak ragam tergantung dari tujuan, manfaat, sumber penulisan, dan aspek-aspek lainnya. Berdasarkan sumbernya, secara umum karya tulis dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu karya fiksi (tidak ilmiah) dan non fiksi (ilmiah). Karya fiksi merupakan karya tulis yang sumbernya semata-mata imajinasi, fantasi, atau rekaan dari si penulis. Tujuan orang menulis fiksi biasanya untuk menghibur atau bisa jadi untuk mengungkapkan isi hati penulis. Karya sastra merefleksikan situasi masyarakat tertentu. Contoh dari karya tulis jenis ini adalah karya sastra: novel, cerpen, puisi, dan lain-lain.

Pengertian Karya Ilmiah
Karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan tertentu. Jenis-jenis karya ilmiah antara lain: karangan ilmiah, laporan penelitian, makalah atau paper, artikel, dan lain-lain.

Sumber: